Konser Kami

Oleh: W.B. Siswantono

Di Asrama Tentara Aur Duri, Padang, tempatku tinggal, tepatnya di rumah kepala asrama, hampir tiap hari dari siang hingga petang selalu ramai oleh sekumpulan ‘berandal-berandal’ kecil hingga tanggung hanya untuk mendengarkan lagu-lagu dari piringan hitam yang dibeli oleh Kepala Asrama. Seingatku, pada awal tahun 70-an, banyak penyanyi tunggal laki-laki atau perempuan. Hanya satu dua orang saja yang kutahu, di antaranya: Muchsin Alatas dan Titik Sandhora, Teti Kadi dan Titik Puspa. Sedangkan band, ada beberapa group band yang kukenal, antara lain:Band Panber’s, yang semua anggotanya kakak beradik dari marga Panjaitan. Lalu, BandThe Mercy’s, juga dari Sumatera Utara. Ada lagi, D’Loyd, yang namanya diambil dari singkatan nama maskapai pelayaran yang menaunginya: Djakarta Loyd.Band ini dimana banyak memopulerkan lagu-lagu berjenis melayu. Ada juga Favourites Group, tapi tak banyak yang kutahu lagu-lagu dari band ini. Hanya saja, dari kesemua group band tersebut, tetap saja Koes Plus yang terbaik. Bagiku, saat itu, Koes Plus adalah band terbaik di dunia. Siang itu, Kepala Asrama baru saja membeli plat baru dari band kesayanganku:Koes Plus.

Awalnya, semua band yang ‘berkumpul’ di rumah Kepala Asrama aku sukai. Bagiku, yang penting lagunya enak di dengar. Tak ada yang istimewa. Hanya saja, kecenderunganku mulai memilih Koes Plus adalah karena Bapak. Dari radio satu-satunya, Bapak sering kali menanti-nanti lagu dari Koes Plus. Waktu kutanya, mengapa hanya Koes Plus yang dinanti, tak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Bapak hanya mengatakan: “Koes Plus itu, band paling……heee…. Kata terakhir diucapkan dengan mendengus sambil mengacungkan ibu jarinya.

Sekali waktu, aku pernah bertanya kepada Bapak mengapa tidak membeli ‘plat seperti Kepala Asrama agar bisa selalu mendengarkan lagu-lagu dari band kesayangannya, Koes Plus yang paling ‘heee’ tadi. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Bapak. Beliau hanya mengelus-elus janggut yang sudah dua hari tak dicukur, tapi tetap mengeluarkan kata: “Heee”, hanya saja kali ini tak diiringi suara dengusan. Malah cenderung tak terdengar.

Setelah beberapa waktu Bapak diangkat sebagai Juru Bayar, akhirnya radio tape terbeli juga. Rupanya, itu juga cita-cita Bapak. Agar tape itu berjalan sesuai dengan harapan, tentu saja harus disertakan pasangannya, yaitu: cassette. Tentu, dengan mudah bisa ditebak cassette apa yang dibeli Bapak pertama kali. Pastinya: cassette dari album band yang paling ‘heee’ tadi. Sejak itu, tampaknya aku mulai terpengaruh oleh band paling ‘heee’ itu. Continue reading

Percepat Berbuka Dengan Yang Manis

Oleh: W.B. Siswantono

Kenapa, sih, buka puasa harus dicepet-cepetin? Pastinya temen-temen udah pada tau. Wong, ini udah sering disampein ama Pak Kyai ato Pak Ustadz kalo lagi kultum ato lagi pengajian. Tapi, ya, biar tulisan ini keliatan keren, dan rada bermutu, lalu kali-kali aja ada yang temen-temen blom tau, ya, pura-puranya dicupliklah pendapat ahli agama lewat Mbah Google. Para ahli agama itu bilang gini:

Orang yang berpuasa dianjurkan untuk mempercepat berbuka jika memang telah masuk waktu berbuka. Tidak boleh menundanya meski ia merasa masih kuat untuk berpuasa.

‘Amr bin Maimun Al-Audi meriwayatkan:

“Para shahabat Muhammad adalah orang yang paling cepat berbukanya dan paling lambat sahurnya” (HR. Al-Baihaqi, 4/238, dan Al-Hafidz Ibnu Hajar ra menshahihkan sanadnya)

Lalu Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin RA juga bilang gini:

“Cepat-cepat berbuka puasa (dianjurkan) bila telah terbenam matahari, bukan karena adzan. Namun di waktu sekarang (banyak) manusia menyesuaikan adzan dengan jam-jam mereka. Maka bila matahari telah terbenam boleh bagi kalian berbuka walaupun muadzdzin belum mengumandangkan adzan.” (Asy-Syarh Al-Mumti’)

Buka puasa dilakukan dalam keadaan ia mengetahui dengan yakin bahwa matahari telah terbenam. Hal ini bisa dilakukan dengan melihat di lautan dan semisalnya. Adapun hanya sekedar menduga dengan kegelapan dan semisalnya, maka bukan dalil atas terbenamnya matahari. Wallahu a’lam. Continue reading

Wudhu

Oleh: W.B. Siswantono

Sebagai syarat sahnya shalat, salah satunya adalah harus berwudhu. Biar keliatan keren, ya, diikutkanlah para ahli agama bicara, yang dicari melalui Mbah Google. Ini katanya: dari segi bahasa, wudhu adalah menyucikan menggunakan air yang suci dan menyucikan dengan cara yang khusus di empat anggota badan yaitu, wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki dengan air yang bersih, berpandukan kepada syarat-syarat dan rukun-rukun tertentu  dengan niat semata-mata karena Allah.

Adapun sebab yang mewajibkan wudhu adalah hadats, yaitu apa saja yang mewajibkan wudhu atau mandi [terbagi menjadi dua macam, (hadats besar) yaitu segala yang mewajibkan mandi dan (hadats kecil) yaitu semua yang mewajibkan wudhu]

Wudhu merupakan salah satu ‘amaliyah ta’abbudiy sebagai syarat sahnya melaksanakan ibadah shalat. Prinsip dari pelaksanaan ibadah adalah untuk memelihara agama (Hifzhu al-dîn) yang termasuk salah satu katagori dharûriyah (apabila tidak dipelihara akan merusak eksistensi agama). Pensyari’atan wudhu didasarkan kepada nash Al-Qur’an (Surat Al-Maidah Ayat 6).

Nah, wudhu juga harus sesuai dengan aturan yang ada. Nggak boleh sembarangan. Lalu, apa, dong, syarat-syarat wudhu? Ini syaratnya:

1.       Islam,

2.       Baligh,

3.       Berakal,

4.       Menggunakan air suci lagi menyucikan,

5.       Tidak dihalang oleh sesuatu yang boleh menghalang air sampai ke kulit anggota,

6.       Suci daripada haid dan nifas.

Kalo rukun wudhu adalah:

1.       Niat,

2.       Membasuh muka (wajah).

3.       Membasuh dua tangan sampai ke siku.

4.       Membasuh sebahagian kepala,

5.       Membasuh dua kaki sampai dua mata kaki,

6.       Tertib.

Kalo Sunnah-Sunnah Wudhu (Hal-Hal yang Disunahkan Ketika Berwudhu) adalah:

1.       Bersiwak,

2.       Mencuci kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu,

3.       Kumur-kumur dan instinsyaq sekali jalan, tiga kali,

4.       Bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur dan istinsyaq,

5.       Mendahulukan anggota wudhu yang kanan daripada yang kiri,

6.       Menggosok,

7.       Membasuh tiga kali, tiga kali,

8.       Tertib,

9.       Berdo’a sesudah wudhu,

10.   Shalat dua raka’at sesudah wudhu.

Bahkan, kalo kita wudhu dengan benar, maka itu juga akan menjadikan kita sehat. Buktinya? Para ahli kesehatan melalui Mbah Google bilang gini, bahwa dibagian-bagian yang kita basuh, mengandung titik-titik akunpunktur.

Titik-titik akupunktur, suatu fenomena yang menarik bila dikorelasikan dengan kayfiyat wudhu yang disyari’atkan 15 abad yang lalu. Semua titik akupunktur memiliki multi indikasi (banyak khasiat) untuk pencegahan dan pengobatan berbagai macam penyakit. Adapun jumlah titik yang terdapat pada anggota wudhu sudah teridentifikasi minimal 493 titik, perincian jumlahnya seperti pada tabel berikut:

No

Anggota Wudhu (Rukun dan Sunat)

Jumlah Titik Akupunktur

1

Wajah

84

2

Tangan

95

3

Kepala

64

4

Telinga

125

5

Kaki

125

Jumlah

493

Itu akan ada hasilnya kalo kita wudhu dan caranya wudhunya bener. Tapi, udahlah. Saya gak ingin berpanjang-panjang membahas ini. Tentu temen-temen udah ato bahkan lebih paham betul tentang hal-hal seperti ini. Apa lagi isinya cuman nyuplik sana-sini yang ada di Mbah Google. Ra mutu, nan, to? Nanti malah kesannya kek ngajarin itik berenang ato ngajarin burung terbang.

Sebenernya, saya cuman pengen cerita tentang kisah waktu SD di Padang dulu saat mulai bisa jalanin puasa  sehari penuh.

Waktu minggu pertama jalanin puasa emang berat banget. Jadi malah males ngapa-ngapain. Yang biasanya kalo liburan jadwal maen bertambah, terutama maen bola, pas puasa, boro-boro mo maen bola, untuk keluar rumah aja udah males. Lemes bener. Tapi, karena puasa ini juga saya (dan temen-temen
maen) waktu itu jadi dapet kreatifitas yang maha dahsyat dalam hal mengatasi lemes, laper dan haus karena puasa.

Biasanya, kalo lagi liburan, yang namanya maen, terutama maen bola, pasti dipuas-puasin. Brenti sebentar kalo ada treakan dari Tuan Kari, guru mengaji kami, kalo udah adzan Dzuhur ato adzan Asyar berkumandang, dan kami-kami masih asyik maen bola. Kalo Tuan Kari udah treak gitu, langkah paling aman emang nurutin printah beliau. Kalo nggak, dijamin kami-kami akan disiksa sewaktu mengaji selepas maghrib nanti. Siksaan itu berupa membaca Al Quran selepas Maghrib hingga menjelang Isya. Bagaimana gak tersiksa? Biasanya, selepas shalat Maghrib,lalu berdoa sekadarnya, kami-kami udah berlarian maen atau mencuri jambu atau tebu di asrama tempat kami tinggal.

Awal-awal, jarang kedengeran treakan Tuan Kari mringatin kami untuk shalat Dzuhur ato shalat Asyar, karena kami emang gak ada yang maen bola ato maen yang laennya. Kebanyakan kami di rumah ato maen yang tidak menghabiskan tenaga semacam ‘main batu’. Tapi, saat di pertengahan bulan puasa, kami mendapatkan cara jitu untuk mengatasi rasa lemes, laper, dan haus. Kami bisa maen bola sepuas-puasnya tanpa rasa lemes, laper, dan haus lagi.

Tentu saja Tuan Kari, mungkin orang tua kami juga, yang heran kenapa sekarang kami rajin sekali maen bola. Paling mengherankan lagi, kami jadi semakin rajin shalat Dzuhur ato Asyar tanpa ada treakan-treakan dari Tuan Kari lagi. Kini, tiap terdengar adzan Dzuhur dan Asyar, kami dengan cekatan lari ke sumur dan saling rebutan cepet-cepetan wudhu. Ya, wudhulah yang bikin kami sekarang rajin shalat Dzuhur dan Asyar. Sekarang treakan Tuan Kari berganti dengan menyuruh cepet-cepet menyelesaikan wudhu.

Biasanya lagi, setelah treakan Tuan Kari berkumandang, kami segera menyelesaikan wudhu dan buru-buru ke surau. Kali kami ini ke surau dengan badan setengah kuyup. Kepala basah, baju sebagian basah, dan senyum mengembang. Tentunya, juga dengan badan yang lebih seger. Selain itu, saat kami berjejer di shaf shalat, selalu kami saling pandang dengan penuh arti dan sepertinya kami saling bisa menjaga rahasia yang bisa bikin kami selalu seger tiap hari.

Misalkan itu shalat Dzuhur, maka selesai shalat kami kembali menyerbu lapangan bola untuk kembali bermain. Soal dahaga ato haus. Tenang aja. Kan, masih ada shalat Asyar. Itu akan teratasi nanti pas acara wudhu.😀

Hal ini terjadi berulang-ulang hingga Tuan Kari curiga, mengapa kami selalu berlama-lama kalo lagi wudhu, dan bila ke surau kami selalu sentengah kuyup, tentu juga bertambah seger.

Hingga sekali waktu, saat adzan Dzuhur tiba, dengan semangat 45 kami berlarian menuju sumur dekat surau. Pastinya semangat kami bukan kami tiba-tiba menjadi anak sholeh. Bukan sama sekali. ya, karena kami emang pengen ‘wudhu’. Itu aja. Saat kami hendak wudhu, Tuan Kari udah tegak berdiri dengan gagahnya di dekat bibir sumur. Tentu aja kami terkejut-kejut dibuatnya.

Tuan Kari tersenyum penuh arti seperti sedang berhasil memecahkan teka-teki paling oke di dunia.

“Baris kalian!”, itu perintah Tuan Kari saat kami berenam tiba di sumur. “Kau timba air, lalu kau wudhu!”, lanjut Tuan Kari sambil menunjuk di antara kami. Selama wudhu, mata Tuan Kari gak lepas ngliat cara kami wudhu. Semua gerakan wudhu dan bagian badan yang kami basuh menjadi perhatian Tuan Kari. Semua rukun dan sunah wudhu menjadi perhatian Tuan Kari.

“Ha, kutengok, bagus cara wudhu kalian, tu“, kata Tuan Kari sambil ngiringin kami ke surau. “Tak kuyup kali ini kalian. Rapi”, lanjut Tuan Kari sambil tersenyum. Sepanjang perjalanan dari sumur ke surau, Tuan Kari tersenyum-senyum kek habis menang perang. Giliran kami sekarang yang gak senyum dan gak seger lagi.

Kini kami emang gak kuyup, tapi kini kami juga gak seger lagi saat shalat Dzuhur. Kami saling pandang saat berjejer di shaf shalat. Pandangan kami penuh kebencian kepada Tuan Kari. Di mata kami saat ini, Tuan Kari gak lebih dari orang yang cuman bisa matiin kreatifitas dan penghalang kenikmatan dunia. Itu belum berakhir. Kini, setelah shalat, tak ada lagi semangat 45 untuk kembali maen bola.

Bagaimana kami gak benci ama Tuan Kari? Wudhu sebagai salah satu syarat sahnya shalat, dan juga sebagai senjata penyegar kami, sekarang hanya berlaku sebagai syarat sahnya shalat saja. Kini gak ada lagi sarana ‘penyegar’ hidup kami. Di sisi lain, senyum Tuan Kari selalu mengembang karena berhasil memecahkan penyebab rajinnya kami melakukan shalat Dzuhur dan Asyar. Dan itu, sangat nyakitin hati banget.

Rajinnya kami shalat, tak lain dan tak bukan, penyebabnya, ya, itu, wudhu tadi. Dari wudhu itupun, hanya bagian tertentu yang menjadi favorit kami. Bagian yang menjadi menjadi penyegar kami. Bagian yang selalu bikin kami kaya kreatifitas dan saling berpandangan penuh arti. Dan, bagian itu pula yang menjadi perhatian Tuan Kari saat kami berwudhu, yaitu membasuh kepala dan berkumur-kumur.😀😀😀

(Jkt, KKC-1, Rabu, 10 Juli 2013, Pkl. 21.47 WIB)

*) W.B. Siswantono, alumni STAN angkatan 1989, memperoleh gelar S1 Akuntansi di Universitas Padjadjaran, banyak menulis artikel dan cerpen di beberapa media masa, sekarang bertugas di CEC.

Cerita Menjelang Ramadhan – De Ja Vu

Oleh: W.B. Siswantono

Hasil tanya-tanya ke Mbah Google, didapatkanlah hal seperti ini. Ada pertanyaan, kapan anak kecil diwajibkan berpuasa, berapa batasan umur yang mewajibkan untuk berpuasa?

Jawabnya:

Anak kecil diperintahkan melakukan shalat jika sudah berumur tujuh tahun dan dipukul jika berumur sepuluh tahun. Wajib berpuasa jika sudah baligh. Baligh tercapai dengan keluar mani karena syahwat, tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan, mimpi basah (mimpi yang menyebabkan keluar mani) atau sudah mencapai umur 15 tahun. Anak perempuan pun demikian, hanya ada tambahan tanda lain yaitu keluar haid.

Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud dari Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata, bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wasalam:

 “Perintahkan anak-anak kalian shalat pada umur 7 tahun, dan pukullah (jika menolak) pada umur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.”

[HR. Ahmad 2927 dan Abu Dawud 495,496.Disahihkan oleh al-Albani di dalam Irwa al-Ghalil]

Juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah -radiallahu’anha- dari Nabi -shalallahu alaihi wasalam-, bahwa beliau bersabda:

“Al-Qolam diangkat (tidak dicatat) pada tiga orang: orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga ihtilam (keluar mani) dan dari orang gila hingga sadar.”

[HR. Imam Ahmad 1195 dan Abu Dawud No.4405. Dishahihkan oleh al-Albani di dalam Irwa al-Ghalil]

Setelah beberapa saa menjadi ayah dari, waktu itu, dua orang anak: lelaki dan perempuan, dengan segala suka dukanya, sampai juga akhirnya pada tahapan menyuruh anak-anak berpuasa. Ternyata, tantangan itu sudah didapatkan pada saat mengenalkan mereka dengan kata ‘puasa’ itu sendiri. Sebenarnya, mereka juga sudah mendapatkan arti kata puasa itu di TPA tempat mereka belajar, tapi tetep aja untuk sedikit afdol menjadi orang tua, dipaksa-paksain ikut-ikutan mengartikan puasa itu kepada anak-anak. Continue reading

Paradox Marketing

Oleh: Dwi Prahoro Irianto

Salah satu konsep dari Paradox Marketing adalah “More For Less, mendapatkan BENEFIT YANG BERLIMPAH namun dengan BIAYA YANG SANGAT MURAH. Dalam dunia bisnis, realitas strategi pemasaran penuh dengan misteri  bahkan sering tidak terukur. Sering kali pula strategi bisnis harus dijawab dengan arus yang bertentangan alias Paradox. Fakta itulah yang kemudian menjadi cikal bakal dari Konsep Paradox Marketing. Konsep Paradox Marketing sendiri pertama kali digagas oleh Arief Yahya, Direktur Utama PT Telkom Indonesia Tbk.

Contoh paling nyata dari Paradox Marketing adalah apa yang dilakukan Google & Facebook. Kedua perusahaan itu menciptakan sebuah fasilitas secara cuma-cuma alias gratis bagi para penggunanya. Namun yang terjadi justru paradox. Banyak orang diseluruh dunia yang menggantungkan dirinya pada mesin pencari Google dan sosial media milik Facebook. Walau tidak mengenakan biaya sedikitpun kepada para penggunanya, toh, kedua perusahaan itu bukannya bangkrut namun malah semakin besar dengan mendapatkan pendapatan dari iklannya. Bahkan kedua perusahaan itu menjadi perusahaan Teknologi Informasi (TI) terbesar di dunia dan pendiri Facebook Mark Zuckenberg menjadi salah satu anak muda terkaya di dunia.

Di Indonesia konsep itu dipakai juga oleh KASKUS. Kalau dahulu kita ingin menjual barang spt Rumah, Mobil, Motor dll harus membayar iklan di Koran. Sekarang semua itu bisa secara gratis dilakukan di KASKUS. Mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita bahwa sesuatu yang Gratis itu ternyata justru bisa mendatangkan Keuntungan yang Melimpah. Sulit juga kita membayangkan bahwa Kaskus yang didirikan dengan modal hanya US$ 7 oleh tiga orang (Andrew Darwis, Ronald Stephanus dan Budi Dharmawan) pernah ditawar oleh Google dengan nilai yang sangat fantastis saat itu yaitu US$ 50 juta atau setara dengan Rp 475 miliar namun ditolak. Wow. Continue reading

Bukankah Dia Juga Manusia

Oleh : Dwi Prahoro Irianto

Tahun 16 H / 632 M, Khalifah Umar ibn Khaththab mengirim pasukan ke negara Super Power wilayah timur yaitu Kerajaan Persia yang sering mengganggu warga muslim. Panglima Perang dipercayakan kepada Sa’ad bin Abi Waqqas. Perang tidak dapat dihindari karena Panglima Perang Kerajaan Persia yang bernama Rustam menghadang pasukan muslim di Qadisiyah yang merupakan pintu masuk ke Kerajaan Persia. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai Perang Qadisiyah dan itulah perang paling dasyat yang terjadi pada masa Kekhalifahan Umar. Perang diakhiri dengan kemenangan pasukan muslim.

Ketika perang Qadisiyah baru saja usai. Saat itu dua orang pahlawan perang masing-masing Sahl bin Hunaif dan Qais bin Sa’d sedang duduk, tidak lama lewat iringan jenazah dihadapan mereka, spontan mereka berdiri menghormati jenazah yang melewati mereka sementara sahabatnya yang lain tetap duduk sambil mengingatkan Sahl dan Qais bahwa jenazah yang lewat tersebut adalah orang Non Muslim. Peringatan dari sahabatnya yang tetap duduk itu dijawab oleh Sahl bin Hunaif dan Qais bin Sa’d :

Sesungguhnya pernah ada jenazah lewat didepan Nabi s.a.w kemudian beliau berdiri, lalu ada sahabat yang memberitahu beliau bahwa jenazah itu adalah yahudi, kemudian Nabi bersabda : Bukankah dia juga manusia..? [ Shahih Bukhari, Hadits No : 684 ]

Bukankah dia juga manusia..? Sebuah kalimat tulus yang membuat hati kita bergetar, Kepada jenazah non muslim, Rasulullah dan para sahabatnya memberi penghormatan. Nabi masih mau “menghargai” mahluk ciptaan Allah walaupun ia bukan seorang muslim. Nabi mengajarkan kepada kita bahwa menghormati manusia bukan hanya kpd yang masih hidup, bahkan kepada non muslim sekalipun ia sudah mati. Continue reading

Service Excellence

Oleh : Taufikurrahman*

Siang itu saya diundang untuk bertemu seorang calon customer yang berminat untuk membeli minyak High Speed Diesel dari perusahaan saya. Beliau mengajak saya untuk lunch meeting di sebuah restoran. Karena khawatir terlambat, saya minta driver saya untuk parkir di SCBD, lalu saya menumpang Ojek meliuk-liuk membelah kemacetan. Tak apalah berpanas-panas, berkeringat, menembus polusi, dan berangin-angin ria naik ojek, karena bagi saya, ketepatan waktu adalah bagian dari “service excellence”, layanan prima yang saya harus selalu saya usahakan untuk customer, bahkan meski baru “calon customer” sekalipun.

Bahkan pada berbagai kesempatan saya seringkali rela berjalan kaki sepanjang jalan Jendral Sudirman untuk mengejar waktu meeting dari gedung ke gedung, jika kebetulan lalu lintas sangat macet dan tak menemukan Ojek. Semuanya saya usahakan demi customer service excellence. Mungkin akan ada yang bertanya, “Bro, kalau Anda datang ke meeting naik ojek, apakah Anda tidak malu gengsi Anda turun kalau terlihat oleh calon mitra bisnis?” Ah, bagi saya, bonafiditas tidak selalu harus dinilai dari penampakan. Akan jauh lebih tidak bergengsi lagi kalau sampai mengecewakan mitra bisnis karena datang terlambat ke lokasi meeting. Saya paham bahwa kebanyakan pebisnis biasanya punya jadwal meeting yang ketat dan padat, maka mereka sangat menghargai waktu. Maka upaya untuk selalu tepat waktu adalah bagian dari saya untuk berkomitmen terhadap service excellence.

Meski sampai berbusa-busa kita menjelaskan kualitas produk atau layanan kita, namun kalau kita sendiri tak dapat membuktikan komitmen kita terhadap kualitas service excellence yang kita janjikan, maka it means nothing to our customers. Customer akan menilainya dari bukti nyata yang mereka rasakan, bukan kata-kata. “Quality in a service or product is not what you put into it. It is what the client or customer gets out of it,” demikian petuah bijak Peter Drucker, Sang Begawan Manajemen. Continue reading